Sunday, June 4, 2017

Fakta Final Liga Champions 2017: Pembuktian Seorang Rookie

Fakta Final Liga Champions 2017: Pembuktian Seorang Rookie


Skor 4-1 pada Final Liga Champions 2017 di Cardiff (Inggris) Minggu dini hari tadi seakan-akan melegitimasi bahwa Real Madrid pantas disebut sebagai Raja Klub Eropa. Keberhasilan mereka yang ke-12 kali dalam memperebutkan gelar Juara Eropa paling tendesius inilah yang menjadi alasan kuatnya. Bahkan ditambah dengan catatan rekor mereka yang lain menambah deretan prestasi ciamik tim besutan Zinedine ‘Zizou’ Zidane itu musim ini.

Setidaknya ada dua catatan rekor bagi Real Madrid selama musim ini di Liga Champions. Pertama; Real Madrid menjadi tim pertama yang berhasil mempertahankan gelar secara berturut-turut setelah format kompetisi berubah dari Piala Champions menjadi Liga Champions pada musim 1992/93. Kedua; Zizou menjadi pelatih pertama di Eropa yang berhasil membawa Real Madrid 
mempertahankan gelar di Liga Champions secara berturut-turut. Sebelum Zizou dan sewaktu format kompetisi masih bernama Piala Champions (Champions Cup) rekor yang sama juga pernah diraih Arrigo Sacchi yang mengantarkan AC Milan menjuarai Piala Champions pada 1989 dan 1990.

Bahkan, Presiden Florentino Perez pun seakan tidak percaya dengan pencapaian klub yang ia miliki itu. Tak tanggung-tanggung, pujian sebagai “Pelatih Terbaik di Dunia” ia layangkan kepada sosok hangat Zizou. 

“Sekarang dia (Zidane:red) adalah pelatih terbaik di dunia. Walaupun dia belum genap 2 tahun menjadi pelatih kami, tapi dia telah membuktikan bahwa tidak ada yang tidak mungkin di tangannya,” 

Ucap Perez pada Stasion Radio Cadena Ser seperti yang dikutip dari DailyMail (04/06).
Bahkan, tidak sampai disitu saja. Pujian itu tetap berlanjut. Saking girangnya, Perez mengatakan pada sesi wawancara di Radio itu bahwa Zidane layak untuk tetap menukangi Real Madrid seumur hidupnya.

“Para fans pasti sangat bangga terhadap pencapaiannya, bahkan ia membuktikan diri sebagai legenda semenjak kedatangannya ke Madrid tahun 2001 lalu dan menjadi pemain terbaik di dunia bersama Los Blancos ketika itu.” tukas Perez.

Pembuktian Seorang Rookie


Zidane resmi menukangi tim senior Real Madrid setelah ditunjuk Florentino Perez menggantikan Rafa Benitez pada 4 Januari 2016.  Zidane sendiri sebenarnya telah masuk di jajaran pelatih sejak 2013. Ketika itu ia menjadi Asisten Pelatih dari Carlo Ancelotti. Tak lama menjadi menjadi asisten, Zizou dipercaya untuk mengomandoi Real Madrid Castilla selama 2 musim sebelum ditunjuk menjadi manajer menggantikan Rafa.

Menggantikan Rafa ketika itu bukanlah tugas yang mudah. Bahkan untuk sekelas pelatih-pelatih dunia sekalipun. Sebab, kondisi Los Blancos benar-benar tengah mengalami kemerosotan moral pasca ditinggal hengkang Ancelotti. Meski sebenarnya, catatan Rafa tidaklah jelenk-jelek amat, membukukan 17 kali nilai penuh dari 25 pertandingan. Namun, Madrid bukanlah klub gurem kemarin sore yang cuma bisa puas dari hasil statistik. 

Kalah dengan tim sekota Atletico Madrid, dipecundangi Barcelona empat gol tanpa balas merupakan rentetan “memalukan” yang membuat para petinggi tidak bisa duduk tenang. Belum lagi ditambah dengan kejadian yang membuat Madrid dan Rafa menjadi bahan olok-olok karena tersingkir dari ajang Copa del Rey gara-gara diskualifikasi masalah administrasi. Dari rentetan itulah yang rasanya membuat petinggi Madrid punya cukup alasan untuk mendepak Rafa.

Oleh karena itu, tak salah jika Zidane dielu-elu sebagai pelatih terbaik di dunia saat ini karena walaupun hadir sebagai pelatih dengan tingkatan rookie (pendatang baru) namun berhasil membalikkan keadaan dan menempatkan posisinya sebagai pelatih yang mesti diperhitungkan . Puncaknya saat mengantarkan Real Madrid juara Liga Champions musim 2015/2016. Publik terkejut takjub, kejadian Copa del Rey pun dilupakan, dan mengikhlaskan Liga Domestik yang gagal diraih Real Madrid musim itu. Semua tergantikan dengan sorak-sorai kegembiraan pendukung yang merayakan trofi Juara Eropa mereka yang ke-11. 

Tak salah jika Florentino Perez seakan-akan ingin menghapus “tradisi” Madrid yang sering gonta-ganti pelatih dengan memberi keleluasaan bagi Zidane untuk tetap membesut Madrid selamanya. Perlu diketahui, sejak tahun 2000-an, Madrid telah berganti pelatih sebanyak 13 kali. Entah ini adalah ungkapan kegembiraan sesaat atau tidak dari seorang Presiden klub, yang pasti Zidane telah membuktikan bahwa sebagai pelatih rookie ia mampu mengantarkan kesuksesan besar untuk Madrid. Juara Liga Champions (2015/2016 dan 2016/2017), Juara La Liga (2016/2017), Juara Piala Super Eropa (2016), dan Juara Piala Dunia Antar Klub (2016). 
Bravo Zidane. Hala Madrid!